Leadership, Kaum Tua Vs Generasi Milenial

Oleh : Drs. Bahrum Jamil, MAP

Leadership, atau kepemimpinan, tak lebih dan tak kurang, adalah bagaimana kemampuan seorang pemimpin mempengaruhi orang dipimpinnya melakukan kegiatan, sesuai dengan tugas dan fungsinya, dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Visi dan Misi dapat dikatakan sebagi kompas untuk dijadikan pedoman kemana arah organisasi akan dikemudikan oleh para pemangku kebijakan dalam organisasi tersebut. Visi dan Misi diturunkan menjadi rencana strategis dan rencana kerja yang pada gilirannya, setiap orang pada organisasi tersebut mempunyai agenda kerja yang dilakukannya secara rutin setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, tiga bulanan, semesteran, bahkan annually, program kerja tahunan. Dalam melaksanakan kegiatan kerja inilah dibutuhkan kepemimpinan yang kuat, yang menjadi tempat bertanya, problem solver, pembuat kebijakan, motivator yang senantiasa memberi dorongan dan semangat, mediator dalam menyelesaikan konflik, me-manage konflik, dan juga pemberi reward dan punishment. Sistem manajemen  yang kuat, tanpa didukung oleh kepemimpinan yang kuat, maka lambat laun sistem yang kuat tersebut tidak kelihatan lagi kekuatannya. Tetapi sebaliknya, pada organisasi yang sistem manajemennya tidak begitu kuat, tetapi organisasi tersebut diisi oleh para pimpinan yang memiliki kepemimpinan yang kuat, lambat laun sistem yang kuat akan terbangun dengan sendirinya karena, seperti yang disinggung diawal tadi, sang pimpinan mampu mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya, untuk bekerja bersama-sama, dengan penuh semangat dan optimisme yang tinggi, melahirkan ide-ide kreatif dan inovatif, dalam rangka mencapai tujuan oragnisasi. Bayangkan jika sebuah organisasi memiliki sistem manajemen yang kuat dan diisi pula oleh pimpinan yang memiliki kepemimpinan yang kuat, wowww…… betapa mudahnya organisasi tersebut mencapai dan sekaligus mengembangkan organisasinya untuk tetap memimpin pasar dan mengalahkan serta mengungguli para kompetitor yang bermain pada sektor dan jenis produk yang sama. Organisasi ini akan tetap eksis dan berkembang dan bisa menjadi role model bagi organisasi-organisasi lain.

So, begitu pentingkah kepemimpinan ini…??? Ya jelas sekali sangat penting, karena tanpa kepemimpinan yang kuat, turn over SDM pasti sangat tinggi. Salah satu indikator seorang pemimpin yang memilki kepemimpinan yang kuat adalah ketika orang-orang yang dipimpinnya enjoy bekerja dalam unit kerja yang ia pimpin. Dalam Ilmu Kepemipinan, faktor penting yang harus diterapkan seorang pimpinan, adalah bahwa seorang pemimpin tidak boleh memperlakukan seluruh orang-orang yang ia pimpin dengan gaya atau style yang sama. Dari berbagai referensi kita bisa mempelajari berbagai tipe dan gaya kepemimpinan. Tidak ada gaya yang ideal dan cocok untuk semua orang, tetapi seorang pimpinan harus mengetahui gaya yang cocok untuk orang-orang atau sekelompok orang atau bahkan seorang karyawan atau staf yang berada dibawah kendalinya. Disinilah seorang pimpinan harus jeli dalam menggunakan gaya atau tipe kepemimpinan mana yang cocok utuk siapa saja. Sekali lagi, tidak akan berhasil seorang pimpinan yang menggunakan style atau tipe yang sama untuk semua orang yang dipimpinnya.

Saat ini, pada era sekarang ini, hidup 4 generasi yang oleh para ahli dikategorikan sebagai Generasi Baby Boomer, Generasi X, Generasi ini kita sebut saja generasi Kaum Tua. Kemudian  Generasi Y, dan Generasi Z.  Generasi Y dan Z kita kenal sebagai Generasi Millenial. Masing-masing generasi punya karakter yang berbeda. Perbedaannya dapat kita lihat dari pemaparan berikut ini :

  1. Baby Boomer (lahir tahun 1946 – 1964)

Generasi yang lahir setelah Perang Dunia II ini memiliki banyak saudara, akibat dari banyaknya pasangan yang berani untuk mempunyai banyak keturunan. Generasi yang adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. Dianggap sebagai orang lama yang mempunyai pengalaman hidup.

  1. Generasi X (lahir tahun 1965-1980)

Tahun-tahun ketika generasi ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Penyimpanan data nya pun menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari masa ini. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Jane Deverson, sebagian dari generasi ini memiliki tingkah laku negatif seperti tidak hormat pada orang tua, mulai mengenal musik punk, dan mencoba menggunakan ganja.

  1. Generasi Y (lahir tahun 1981-1994)

Dikenal dengan sebutan generasi millenial atau milenium. Ungkapan generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Mereka juga suka main game online.

  1. Generasi Z (lahir tahun 1995-2010)

Disebut juga e-Generation, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya.
Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka.

Dari hal diatas kita melihat generasi mana sekarang yang mendominasi dunia kerja. Pimpinan saat ini dominan dari Generasi Baby Boomer dan Generasi X. Baby Boomer dan Generasi X bertemu dengan generasi Y dan Z yang harus dia pimpin, mesti  beradaptasi dengan teknologi yang sedang berkembang, yang digandrungi oleh generasi tersebut. Generasi Milenial adalah generasi yang senang dengan hal-hal yang berada diluar mainstream, diluar kebiasaan. Mereka generasi yang produktif dan penuh energi. Selalu siap dengan perubahaan dan senang menjalani hidup yang efisien. Selalu berfikir out of the box, selalu asyik dengan teknologi, berpikiran terbuka, dan kompromi dengan banyak hal. Mereka selalu mengikuti passion-nya dalam memilih profesi, cenderung tidak betah pada suatu lapangan kerja, punya mobilitas yang tinggi, dan sedikit selengek-an. Menghadapi hal ini, pimpinan harus bekerja ekstra untuk dapat memahami arah pemikiran generasi milenial. Bagaimana kemampuan seorang pimpinan untuk dapat mengungkapkan potensi mereka, menjadi suatu hal yang penting bagi organisasi. Mereka mempunyai talenta yang cukup baik, bahkan diatas rata-rata,  dan ini harus di-manage pula dengan baik. Karena ini juga merupakan aset organisasi yang harus dipelihara.

Bagi organisasi dan badan usaha yang bukan memproduksi barang secara massal, kepemimpinan dalam menghadapi generasi milenial ini menjadi menarik. Para pimpinan harus menciptakan suasana yang membuat mereka enjoy dalam bekerja. Suasana yang monoton dan tidak menantang akan menjadi daya tolak yang potensial membuat mereka mencari lapangan kerja yang baru. Sebaliknya bagi organisasi yang memproduksi barang secara massal, dimana karyawan harus fokus dan patuh pada sistem produksi yang sudah diatur sedemikian rupa, akan sulit mencari generasi milenial yang betah dengan kondisi kerja seperti itu. Bisa diduga, turn over karyawan akan tinggi angkanya.

Begitulah Kepemimpinan memegang peran yang sangat penting bagi seorang pemimpin dalam menjalankan roda organisasi sesuai dengan tugas dan fungsinya serta level kepemimpinannya. Untuk menjadi pemimpin memang bukan suatu hal yang susah, tetapi menjadi pemimpin yang mampu mempengaruhi bawahannya untuk bekerja sama mencapai tujuan organisasi bukan juga merupakan suatu hal yang mudah, yang lebih sulit dan ini sangat penting, adalah bagaimana pemimpin mampu membuat para orang yang dipimpinnya merasa enjoy bekerja dibawah kepemimpinannya. Pemimpin harus mengenal siapa dan bagaimana karakter orang-orang yang ia pimpin, dan saat ini ditambah lagi dengan keharusan bagi seorang pemimpin untuk mengetahui dan memahami, berasal dari generasi mana orang-orang yang ia pimpin.